Lintang Pramudia Swara

cropped-cropped-img_20160604_09152812.jpgDipanggil Lintang, siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Bandung, Lahir di Bandung 22 Desember 2001. Tinggal di Jl. Tugulaksana, daerah Punclut Lembang.

Diriku kini bermetamorfosa dan mungkin sulit bergaul diantara remaja kawan-kawanku. Sering aku mengira bahwa aku ini apatis, tak dapat melebur dengan teman seusiaku. Beberapa teman menganggapku ambisius dan tak punya topik yang cocok ataupun sesuai dengan gaya gaul mereka. Yaa, akhirnya kucoba jadi diri sendiri dengan dewasa secara pemikiran sebelum waktunya. Semoga banyak karya yang dapat dituangkan di blog ini 🙂 selamat membaca

Introvert Bagian 2

Melanjutkan pembahasan sebelumnya, terkadang hidup saya sebagai introvert sangat tersiksa. Sangat jarang siswa di sekolah saya menyendiri layaknya diri saya. Berada bersama dengan kumpulan orang membuat saya tak nyaman, banyak hal yang yang mereka bicarakan sangat tidak penting dan membuang-buang waktu, saya sendiri seringkali terjebak diantara mereka. Terkadang pula saya mendapat banyak sindiran karena sikap saya yang kurang ramah, tidak bisa diajak bercanda, tidak bisa masuk topik pembicaraan. Ada pula satu teman yang kadang cukup mengganggu saya, seperti sebuah kesengajaan. 
Awalnya saya merasa tersanjung diajak dia sholat bareng, belanja sesuatu bareng, tapi semua berubah ketika dia mengajak temannya yang cukup gaul dan liar bagi saya. Tak banyak hal penting yang dia bicarakan, bagi saya dia kurang intelek, banyak pula hal yang tak saya mengerti, sehingga saya merasa canggung dan diam saja sepanjang perjalanan bersama dua orang ini. Saya merasa dan melihat ekspresi dalam hati dia kesal, dan tak suka dengan saya, saya sendiri merasa malah keberadaan saya yang tidak penting dan sama sekali tak diperlukan disini. Caranya menghambat dan menyindir membuat saya sult menolak, kadang saya lari agar tak terlihat olehnya, seakan kesendirian saya ini tak penting, seakan pula kegiatan saya sehari2 hari tak sepenting menemani dirinya , sehingga dia dengan mudahnya bisa mengajak saya pergi, dan membuat saya tak nyaman.

Orang itu tak bisa saya sebut namanya, tapi saya melihatnya seakan tak bisa sendirian, gengsi jika tanpa tanpa teman,  yah dasar dia extrovert, saya sudah sudah bisa sepenuhnya menghindar darimu untuk sekarang. Kalau saya sih cuek saja,makan bekal di depan koperasi sendirian, pergi ke kantin sendiri, menyendiri dekat green house yang sejuk. Tapi alih- alih bukan hanya dia, saya diangkat menjadi ketua murid yang harus lebih cerewet lagi dan kenyataannya saya tak bisa, saya merasa lebih kesal lagi, ditambah guru-guru sering menegur dan sudah pasti bertanya “ Kenapa kamu makan sendiri, hei jangan melamun” dan masih banyak lagi, tapi ayolah bu, pak, saya punya hak untuk sendirian, kenapa keberadaan saya menjadi mencolok dimata kalian, padahal keberadaan saya dimata teman2 sangatlah tidak diakui. Saya juga jadi sering dianggap sombong, pusat perhatian, sok bijaksana, sok keren, tapi bisakah kalian membiarkan saya seperti ini? Ini pilihan saya untuk menutup diri, saya enggak merasa minder dan malu, saya memang suka kesunyian, saya risih, saya bicara seperlunya pada kalian, jadi tolong jangan ganggu saya, dan silahkan nilai saya sesuka kalian, saya memang aneh, dan anti sosial, tapi saya enggak merasa begitu. 

Entah hukuman atau apa, saya jadi lebih menderita lagi, akhirnya saya dapat malapetaka, saya menderita luka bakar cukup parah akibat kompor meledak, tapi kemudian saya yakin dan pasrah bahwa ini adalah ujian untuk saya, semua ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan, karena walau bagaimanapun manusia saling membutuhkan satu sama lain. Semua teman membuat saya terharu, mereka menjenguk saya, ikut bersedih dengan kondisi saya, saya sendiri tak kuasa karena harus berkali-kali menahan tangis kala itu.

Saya ketika dirawat di rumah sakit

Waktu akhirnya berlalu, dua bulan sudah saya menikmati kesendirian setelah dua minggu dirawat dirumah sakit, saya merasa beruntung, saya tak bisa sekolah, saya tak perlu bertemu teman sekelas dan orang sekolah, saya memang tak membutuhkan semua itu. Pada akhirnya saya coba bergabung dengan sebuah grup di media sosial facebook dengan kawan2 introvert yang lainnya, cukup berat karena ini adalah grup universal, jadi kita mau tak mau menggunakan bahasa Inggris.
Kami berbagi cerita dan keseharian kami, dengan berbagai hal dan permasalahan yang sering menimpa kami. Kami merasa, bahwa kami tidak sendirian dengan adanya grup ini,banyak hal positif dan saran-saran menarik untuk mejalani hari. Mengenai keengganan saya untuk bertemu teman teman sekolah, mereka menyarankan saya untuk say hello, mereka yakin teman teman saya akan senang melihat saya pulih dari sakit, semua akan menjadi hari yang berbeda setelah ini, di sangat yakin akan itu, karena mencoba adalah hal terbaik untuk membuktikan daripada menduga-duga. Saya belum mencobanya, setelah ujian banyak hari-hari tak penting untuk datang ke sekolah, tapi saya berharap suatu hari saya bisa menghadapinya.

Cascara

Mungkin kalian tahu mengenai buah kopi. Tapi aku baru tahu bahwa daging buah kopi bisa diolah dan dijadikan minuman yang nikmat. Jika biji dari buah kopi diolah dengan natural process, dan full wash, daging dan kulitnya hanya perlu dijemur sampai kering, kemudian ditumbuk, dan siap dinikmati. Apakah itu diseduh dengan french press,  v60 atau flat bottom, karakter hasil brewingnya akan terasa sangat menonjol dan kadang ada kesan seperti teh, serta baik dikonsumsi secara berkali kali. Kafeinnya sendiri tentu saja tidak setinggi kadar kafein kopi arabica, rasanya sendiri sangat licin, ringan dan tidak membekas di lidah, membuatnya ingin diteguk lagi dan lagi secara berkali-kali. Dibandingkan dengan teh, saya rasa ini adalah lebih istimewa dari teh, kadang teh hambar dan tak beraroma, cascara lah yang lawan main dari semua itu.

20100901-coffeetea

Yang satu ini diseduh dengan sederhana, kita mengenalnya dengan tubruk, membuat minyaknya keluar. Saya lebih menyarankan digiing dulu dan pakai dripper v60 supaya karakternya dapet.

Namun yang sangat disayangkan adalah, belum banyak kedai kopi yang menyediakan minuman ini. Kebanyakan kedai menikmatinya sendiri sebagai bahan eksperimen dan inovasi saja, mungkin kalian para pembaca, maupun penikmat kopi, jika penasaran bisa mampir dan bertanya saat mampir kedai kopi di pinggir kota, supaya makin tahu dan banyak ilmu 😀

 

Tentang Introvert

Image result for batman is introvert

Batman adalah introvert sebagai seorang pahlawan

Aku mengetahui apa itu introvert, Saat mengerjakan soal Bahasa Indonesia.  Aku dipertemukan oleh sebuah dialog, yang menjawab pertanyaan mengenai siapa aku ini sebenarnya. Memang saat membaca agak konyol, introvert itu pemalu, penyendiri, individualis, lebih kreatif, perasa, dan merasa tidak nyaman berada diantara banyak orang, dan itu bagiku adalah ‘Lintang Banget ’. Dulu kupikir aku ini aneh, tak suka berbaur, hanya bicara seperlunya, dampaknya sendiri terasa hingga sekarang, namun tidak, aku yakin inilah aku, yang tidak pula unggul dalam berbagai mata pelajaran. Introvert mulai  mengusikku saat Virzha, Raisa, dan Isyana, tak mungkin asing di telinga kalian, menyatakan mereka itu introvert, baru beberapa hari ini di media. Rasanya mustahil, mereka itu bagiku penyanyi yang luar biasa, all out, tak terlihat gambaran sedikitpun bahwa mereka adalah introvert, sangsi sudah aku saat mendengar pernyataan mereka.

Mungkin secara mental introvert, tapi bisa lebih ekspresif saat bernyayi, itulah introvert gambaranku tentang mereka. Bentuk pengalihan dari diri mereka yang mengasing dari kerumunan, tapi apa jadinya kalau bukan kita yang punya andil besar terhadap diri kita, karena kadang tanpa alasan, seseorang menjauh, bahkan bisa semua orang, saat kita hanya memilih pula untuk diam, absurd sudah ceritaku ini.

Edisi singgah di kedai

Bagaimana jika manusia penikmat kopi itu peka? aku coba mendalami rasa pahit yang berevolusi menjadi asam, manis, lucu di lidah. Mungkin hanya dalam beberapa hal, di musik atau gambar, rasanya tak terasa keunggulan ini muncul sebagai peka berkesenian. Tapi aku sangat bisa menikmati makanan sederhana yang orang lain anggap hambar, murahan, dan tak enak.

 

Selasa 13 Desember 2016

Sore itu, kuniatkan pergi ke kedai kopi. Kedai yang satu ini hanya angkringan yang menggelar gerobak tiap sore. Sudah kulirik saat dibonceng motor, seraya itu ku periksa juga akun instagram nya.

Photo1686.jpg

Tampak depan gerobak seduh kopi angkringan yang terletak di daerah Tamansari Bandung.

Kopi Edan namanya, berada di jalan Tamansari, sejajar dengan tukang pecel lele dan nasi goreng. Entah kenapa, aku pun lebih tertarik pergi ke kedai yang sederhana, apalagi yang satu ini bernuansa angkringan, bosan juga dengan kopi indomaret. Awalnya sih malu ya, siswa smp macam aku datang ke kedai kopi sendirian, meski diawal mereka belum menyadari usiaku yang sebenarnya, saya santai saja sih. Setelah itu kucoba lihat menu, angkringan pembawaannya murah? mereka baru buka? atau kualitas kopinya diragukan? Bikin makin penasaran nih saat liat harganya, untuk coffee blend sendiri, mereka beri harga 6 ribu untuk secangkir espresso. Hmm, aku harus minum single origin sepertinya. Lantas kutanya saja

” Manual brewing nya enggak ada mas?”

” Ada nih beans nya, bali sama aceh gayo, tinggal milih aja” Dia menjelaskan sambil menyusun alat- alat menyeduh kopi. Kurang peka diriku ini, di daftar menu sudah jelas tercantum. Semua methode, dari v60 sampai french press, hanya 13 ribu rupiah. Mungkin layak dicoba, semoga saja memanjakan lidahku ini, hihi. Aceh Gayo bagiku hanya after taste nya saja yang asam, sepertinya harus coba bali kintamani.

” Saya mau bali kintamani, di v60 ya mas..” Begitu pintaku, nampaknya aku pelanggan pertama, sepi sekali dari tadi. Aku pun masih enggan berbincang dengan tukang seduh yang satu ini, sementara dua orang lagi sedang sibuk menata gelas dan peralatan lain. Akhirnya si tukang seduh mulai menggiling biji kopi. Kuperhatikan air mendidih, dia beralih ke cerek air, dari cerek dia tuang air panas ke paper filter yang sudah disetel di dalam v60 dripper, yang lagi lagi kuanggap cukup elegan. Selepas itu, dia cuci gelas agak besar dan cangkir kopi kecil dengan air panas di cerek tadi. Tetes demi tetes dari dripper ke kettle bawahnya, kucur demi kucur air kopi ini, rasanya menghanyutkanku sehingga tak sabar untuk segera meneguknya. Alih alih saat kucoba, terpesona sudah aku dibuatnya, pahit kopi sama sekali tidak terasa di lidahku, aromanya, asam kopi, segar sekali rasanya, tak sanggup aku berhenti menikmatinya. Karunia apa yang Tuhan beri sampai aku bisa bahagia begini?

Selasa 27 Desember 2016

Hari ini guru cello rupanya oh rupanya, tak bisa melatihku, 2 minggu sudah saya tak dilatihnya. Tapi guru pun tak luput dari halangan, musik adalah karir utamanya, kak mega si ahli cello ini sedang sakit, semoga saja dia segera sembuh. Kadang kuanggap ini kesempatan bagus untuk bisa berlatih lebih baik, tapi alih-alih bagaimana kalau yang kuanggap baik ini malah mengecewakannya. Satu masalah ini masih saja kucoba bereskan. Niatku yang lainnya, lagi-lagi belum juga terlaksana. Ambisi saya untuk membelanjakan uang ini belum pernah terwujud. Saya terbatas oleh waktu, dan kadang tekanan orang-orang di rumah, bisakah ini disebut tekanan? ya, karena saya dapat uang diam-diam, dan ambisi saya ini dirasa konyol, saya pun tak punya juga alasan bagus akan hal ini. Ambisi ini mungkin ambisi yang kolot, saya ingin beli biji kopi, yang bisa dibeli dengan jumlah sedikit. Mengingat finansial ini sangat terbatas, tak bisa juga kusimpan biji kopi terlalu lama. Tempatnya itulah yang dirasa jauh, berada di jl. sukasenang, butuh ongkos, waktu, dan alasan yang logis untuk meyakinkan bapak saat aku pergi kesana. Di sisi lain, sorenya bapak mengajakku ke suruput, kedai kami yang sudah buka sejak 4 bulan lalu. Alih-alih sangat disayangkan, beberapa karyawan, termasuk barista, akhir-akhir ini banyak yang mengundurkan diri, 3 tenaga kerja ini entah tidak nyaman atau apa, namun mereka berhak memilih bukan? yang jelas pengalaman menyeduh ini akan sangat berharga untuk mereka , saat mereka diluar kedai. Sudahlah, kalian tau yang terbaik untuk kalian sendiri. Kemarin kucoba buat capuccino, seorang amatir macamku ini rupanya oh rupanya, belum bisa bikin latte art. Nah, untuk hari ini, hanya ada ( kusebutkan namanya saja ya). Nanang dan Dea, mereka hanya orang yang cukup merakyat, rendah hati, dan berjiwa ibaratnya pembantu, tak sombong atau pintar2 amat lah, entah bagaimana menjelaskannya.

Screen Shot 2017-01-17 at 9.08.20 PM.png

Tampak kanan, nanang yang megang bar malam itu, dia juga sudah cukup mahir sih. Pengunjung pun sangat antusias saat menyaksikan Nanang menyeduh

Aku sih nyaman-nyaman saja, office boy di kantor bapak pun sering kuajak ngobrol. Hari ini aku dapat kesempatan melayani pesanan, aku yang mengajukan diri pada nanang saat itu, kubuat vietnam drip, tubruk, menyodorkan menu, lumayan juga, pertama kali aku pusing akan pesanan dan segala rupa ini dan itu nya.

 

Senin 16 Januari 2017

Baiklah, reaksi nya kurang ada unsur apresiasi. Tak apa, lebih baik saat dia sudah bilang ,kopi ini enak. Yah siapa lagi kalau bukan Bapak. Hal menarik lainnya, piccolo latte rupanya sangat menghanyutkanku, entah memang rasanya begini, beans nya yang bagus, atau barista nya jago.

IMG_20170117_174921.jpg

Wujud Piccolo latte yang saya pesan di Bag Coffee

Petualangan kopi hari ini dimulai kembali, ke home roastery bernama bag coffee.

IMG_20170116_134603.jpg

Interior kedai yang sederhana, dipenuhi berbagai musisi yang asyik mengobrol.

Alih alih sulitnya menemukan tempat ini tanpa gogle maps, tapi worth lah dengan kopinya, walau saya harus merogoh kocek lebih ekstra kali ini, karena saya mau coba beli roast bean. Apakah hal ini perlu diceritakan? entahlah, tapi 4 hari yang lalu, refrensi tempat ini yang mulai mengusikku.Refrensi ini datang dari Mas Onyong, barista di kedai kecil bernama 11:12 yang punya makna tersendiri dalam mengopi.

IMG_20170112_144844.jpg

Tampak samping kedai sebelas dua belas, di daerah dago, bisa ditemukan sebelum SMAN 1  dari arah bawah.

Tak perlu banyak ilmu, yang penting punya skill dasar yang enggak boleh lepas, atau lebih tepatnya aturan menyeduh kopi dasar seperti satu contoh yaitu tingkat kematangan air. Baginya pula, kopi hanyalah sebagai media mengobrol, tak melulu soal kopi yang biasa dia bahas dengan pelanggan, obrolannya selalu ngalor ngidul oleh suasana dan topik yang ada. Padahal dulunya, saya sendiri takut mampir kedai, karena minimnya pengetahuan, malu, dan hal-hal tak terduga lainnya. Tapi disinilah seharusnya kita berbagi pengalaman, cerita, bertukar pikiran, apalagi kalau bisa menambah wawasan, semua akan jadi menarik tanpa kalian duga sebelumnya, barista saya rasa tak segan berbagi kok. Disini pula saya belajar, bahwa tak harus gaya, dan sok elegan sebagai penikmat kopi, kita bisa menjadi sederhana dan tidak memikirkan hal yang terlalu kompleks, tak banyak pula remaja macamku menggeluti minat pada kopi, lebih tepatnya nyantai dan menikmati hidup, ditemani obrolan dan secangir kopi yang pastinya akan menghanyutkan suasana mengobrol lebih berkesan, well.. salam suruput para pembaca, jangan lupa tuangkan pengalaman ngopimu dalam karya tulis

 

Minuman Kemasan

Saya sudah mulai jeli rasanya, pertama sih dari kopi. Komposisi, persentase, dan berapa kadar yang ada pada semua minuman kemasan, sebaiknya ini perlu di perhatikan. Saya sendiri sempat heran dengan harga kopi instan yang begitu murah sampai banyak diminati dan dikonsumsi orang banyak, orang indonesia mana yang menolak barang murah. Padahal biji kopi asli bisa mencapai ratusan ribu untuk 2 ons saja. Sejenak saya coba cari tahu, dan tentu saja kandungan kopi pada kopi instan tidaklah mencapai 50% yang membuat saya yakin, inilah penyebab kopi instan bisa diproduksi dan dijual dengan jumlah sangat banyak. Sisanya bisa saja pemanis buatan, perisa dan sebagainya, ini bisa ditemukan pada komposisi saat kalian cari kopi ala caffe dengan harga minim, entah 1000 sampai 2000 rupiah per sachet. Saya sendiri sudah berhenti mengonsumsi kopi palsu itu, saya lebih suka sesuatu yang murni, entah minum di kedai, atau seduh sendiri di rumah. 

Seraya itu, sebagai pelengkap kopi ada susu kental manis. Saya kadang merasa ditipu habis-habisan, tak banyak susu yang terkandung melainkan kadar gula tinggi yang sering bikin orang salah persepsi, terutama kepraktisan dan harganya yang sangat terjangkau. kalau begitu tidaklah berbeda kalau kita sebut krimer kental manis. Kadar gula dan lemak dalam susu kental manis sendiri sangat tinggi dan sangat tidak dianjurkan untuk diseduh dengan air lalu diminum. Ada satu produsen susu kental manis yang mengganti nama produknya menjadi krimer kental manis dan mencantumkannya di lokasi yang tidak strategis sehingga konsumen termakan oleh tipuan produk susu sialan yang satu ini. Sebenarnya susu kental manis hanya pelengkap ataupun topping olahan makanan  yang berbau kue, dan bukan sebagai minuman untuk di seduh. 

Selain susu, pasti tidak jauh masih mengenai minuman. Minuman botolan atau dus di supermarket, yang mengaku mengandung sari buah dan vitamin tinggi. Padahal teh kemasan botol saja hanya memiliki persentasi teh 4% saja, sisanya hanya air, gula, dan perisa buatan. Okelah, jus kemasan, atau minuman sari buah kemasan mencantumkan mengandung sari buah. Minuman ini saya akui jelas mengandung sari buah, yang ternyata tidak mencapai 10% buah asli. Apa kandungan buah tersebut akan memenuhi kebutuhan tubuh secara baik? Saya rasa minuman-minuman ini hanyalah berguna untuk menyegarkan, dan memenuhi permintaan konsumen yang cukup tinggi. Penelitian sendiri membuktikan bahwa jus buah dalam kemasan tidak lebih sehat dari minuman soda botolan, jadi akan lebih baik untuk beli jus yang kita saksikan langsung saat di blender, kita sendiri bisa meminta jumlah gula sesuai selera ketimbang memilih praktis tapi tak jelas manfaatnya bagi kesehatan. Memang hidup sehat akhirnya dirasa cukup  sulit, setidaknya usaha harus ada supaya hidup ini  lebih berkualitas nantinya. Semoga saja artikel ini bermanfaat, berbagai sumber dan bukti empiris kurang saya cantumkan jelas karena semua ini hanya hasil penalaran saya , untuk lebih lengkap dan menambah informasi silahkan berselancar lagi di google!

Absurdnya Cinta

​Cinta

definisi ini terus mempertanyakanku, atau aku yang bertanya pada definisi ini, atau mungkin aku tak tau dimana bisa menemukan kau wahai definisi? Absurd lah kau, hanya sebuah kata yang merusak pikiran manusia seusiaku ini, sebuah ironi itulah yang kini terjadi. remaja yang labil ini mulai sok tahu dan pura-pura telah merasakannya. Tapi cinta bermakna lebih dalam bagiku, tidak berbatas oleh tempo dan sesal saat cinta itu berakhir. Yah, bukan cinta pula yang menyulitkan kita, tapi kitalah yang menyulitkannya dengan memberi definisi yang sesuai pengalaman dan kata hati kita masing-masing. Cinta hanya sebuah kata, kita sendiri yang mengartikan dan mempersulitnya. Dari butuh perhatian, rasa ingin memiliki, pamer, nafsu belaka? atau memanfaatkan saja? Tidaklah harus perasaan sayang kita ini dipendam, tidak pula juga harus di realisasikan dengan “pacaran” atau hubungan, satu hal yang kaunggap benar yaitu ungkapan, menyatakan perasaan, bukan jabatan, menurutku manusia tak punya hak untuk memilih. Seperti yang pernah kualami, hanya ada akan rasa sakit dan keegoisan saat manusia harus memilih seseorang sebagai pendamping hidup dan sifatnya sementara pula statusnya. Rasa sakit dari orang lain yang punya perasaan yang sama padamu, menumbuhkan rasa egoismu untuk memilih orang lain yang kaurasa memendam perasaan yang sama denganmu. bahasa sederhananya adalah cinta segitiga, ada 1 orang yang harus memendam beban perasaan untuk menghargai temannya. hidup yang tak pernah adil membuat manusia kian egois dan tak memikirkan perasaan orang lain yang juga menyukainya. Namun bagiku cinta tak boleh berakhir dengan penyesalan, dan kebohongan. Pada akhirnya kupikir lagi, manusia punya cara dan pengalaman cinta yang hanya mereka sendiri yang bisa tahu dan merasakannya, jadi biarlah cerita cinta itu berakhir saat nafas berhenti berhembus. bukan definisi, tapi cerita cinta yang akan kita terus kita cari, jadikanlah teori diatas sebagai inspirasi kalian, temukan cinta, dan ciptakan cerita cinta yang berkesan

Selamat menjalani hidup 🙂

Pour Over Coffee

IMG_20160828_103648#1

“Kenapa kopi harus disaring?” Aku memang sudah tau, maksudnya supaya ampas tak mengendap dan mengganggu di cangkir kopi. Kopi memang punya treatmen dan rasa yang berbeda-beda rupanya.

“ Sebenernya, cara ini supaya citarasa kopi enggak hilang, tapi disini kita pake kertas filter dan kono untuk meneteskan kopinya”

“ Manual brewing ya pak? V enam puluh?” Tanyaku

“ V sixty lin ” Bapak membetulkan, sambil menuang air untuk membilas kertas filter yang ditaruh di atas v60.

Screen Shot 2016-09-01 at 4.43.26 PM

“ Emang harus dicuci gitu pak ya? Berarti kertasnya kotor?” tanyaku lagi

“ Yah, harus dibilas dulu dong, nanti bau kertas di kopinya” Begitu penjelasannya. Wah wah, bapak ngerti banget. Terkadang kopi tubruk terasa lebih sedikit dan banyak bubuk yang mengganggu, walau punya makna tersendiri pada akhirnya aku lebih condong untuk menyukai metode v60 ini. Tanpa bubuk, kopi terasa lebih mudah dinikmati, bapak lebih merasa seperti minum anggur katanya. Yah kuakui

“ Mmm, enak pak, memang si asem kopi Arabica nya tuh lebih dapet dan karakter kopinya juga jauh lebih kerasa” begitu responku saat pertama kali mencobanya.

IMG_20160901_164508

Bukan dari metodenya saja, kopi jawa barat memang yang terbaik. Paman rutin memberi Java Prenger Arabica coffee untuk kami nikmati. Kembali ke v60, Arabica yang di filter terasa lebih bersih di lidah, karena filter tadi yang artinya menyaring walau menurutku lebih ke agar bubuk kopi tak harus ikut berada di gelas. Yah, memang warnanya enggak begitu hitam dan kadang seperti warna teh, jadi gunakanlah cangkir kopi, supaya lebih keren kesannya. Yah entah berasa mewah atau bagaimana, kebiasaan ini menjelmaku, kadang sih ibu bilang aku kayak orang tua karena suka minum kopi. Tapi tak pernah ada masalah sih untuk bapak sendiri, dia malah antusias karena ini.