Lintang Pramudia Swara

cropped-cropped-img_20160604_09152812.jpgDipanggil Lintang, siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Bandung, Lahir di Bandung 22 Desember 2001. Tinggal di Jl. Tugulaksana, daerah Punclut Lembang.

Diriku kini bermetamorfosa dan mungkin sulit bergaul diantara remaja kawan-kawanku. Sering aku mengira bahwa aku ini apatis, tak dapat melebur dengan teman seusiaku. Beberapa teman menganggapku ambisius dan tak punya topik yang cocok ataupun sesuai dengan gaya gaul mereka. Yaa, akhirnya kucoba jadi diri sendiri dengan dewasa secara pemikiran sebelum waktunya. Semoga banyak karya yang dapat dituangkan di blog ini 🙂 selamat membaca

Edisi singgah di kedai

Bagaimana jika manusia penikmat kopi itu peka? aku coba mendalami rasa pahit yang berevolusi menjadi asam, manis, lucu di lidah. Mungkin hanya dalam beberapa hal, di musik atau gambar, rasanya tak terasa keunggulan ini muncul sebagai peka berkesenian. Tapi aku sangat bisa menikmati makanan sederhana yang orang lain anggap hambar, murahan, dan tak enak.

 

Selasa 13 Desember 2016

Sore itu, kuniatkan pergi ke kedai kopi. Kedai yang satu ini hanya angkringan yang menggelar gerobak tiap sore. Sudah kulirik saat dibonceng motor, seraya itu ku periksa juga akun instagram nya.

Photo1686.jpg

Tampak depan gerobak seduh kopi angkringan yang terletak di daerah Tamansari Bandung.

Kopi Edan namanya, berada di jalan Tamansari, sejajar dengan tukang pecel lele dan nasi goreng. Entah kenapa, aku pun lebih tertarik pergi ke kedai yang sederhana, apalagi yang satu ini bernuansa angkringan, bosan juga dengan kopi indomaret. Awalnya sih malu ya, siswa smp macam aku datang ke kedai kopi sendirian, meski diawal mereka belum menyadari usiaku yang sebenarnya, saya santai saja sih. Setelah itu kucoba lihat menu, angkringan pembawaannya murah? mereka baru buka? atau kualitas kopinya diragukan? Bikin makin penasaran nih saat liat harganya, untuk coffee blend sendiri, mereka beri harga 6 ribu untuk secangkir espresso. Hmm, aku harus minum single origin sepertinya. Lantas kutanya saja

” Manual brewing nya enggak ada mas?”

” Ada nih beans nya, bali sama aceh gayo, tinggal milih aja” Dia menjelaskan sambil menyusun alat- alat menyeduh kopi. Kurang peka diriku ini, di daftar menu sudah jelas tercantum. Semua methode, dari v60 sampai french press, hanya 13 ribu rupiah. Mungkin layak dicoba, semoga saja memanjakan lidahku ini, hihi. Aceh Gayo bagiku hanya after taste nya saja yang asam, sepertinya harus coba bali kintamani.

” Saya mau bali kintamani, di v60 ya mas..” Begitu pintaku, nampaknya aku pelanggan pertama, sepi sekali dari tadi. Aku pun masih enggan berbincang dengan tukang seduh yang satu ini, sementara dua orang lagi sedang sibuk menata gelas dan peralatan lain. Akhirnya si tukang seduh mulai menggiling biji kopi. Kuperhatikan air mendidih, dia beralih ke cerek air, dari cerek dia tuang air panas ke paper filter yang sudah disetel di dalam v60 dripper, yang lagi lagi kuanggap cukup elegan. Selepas itu, dia cuci gelas agak besar dan cangkir kopi kecil dengan air panas di cerek tadi. Tetes demi tetes dari dripper ke kettle bawahnya, kucur demi kucur air kopi ini, rasanya menghanyutkanku sehingga tak sabar untuk segera meneguknya. Alih alih saat kucoba, terpesona sudah aku dibuatnya, pahit kopi sama sekali tidak terasa di lidahku, aromanya, asam kopi, segar sekali rasanya, tak sanggup aku berhenti menikmatinya. Karunia apa yang Tuhan beri sampai aku bisa bahagia begini?

Selasa 27 Desember 2016

Hari ini guru cello rupanya oh rupanya, tak bisa melatihku, 2 minggu sudah saya tak dilatihnya. Tapi guru pun tak luput dari halangan, musik adalah karir utamanya, kak mega si ahli cello ini sedang sakit, semoga saja dia segera sembuh. Kadang kuanggap ini kesempatan bagus untuk bisa berlatih lebih baik, tapi alih-alih bagaimana kalau yang kuanggap baik ini malah mengecewakannya. Satu masalah ini masih saja kucoba bereskan. Niatku yang lainnya, lagi-lagi belum juga terlaksana. Ambisi saya untuk membelanjakan uang ini belum pernah terwujud. Saya terbatas oleh waktu, dan kadang tekanan orang-orang di rumah, bisakah ini disebut tekanan? ya, karena saya dapat uang diam-diam, dan ambisi saya ini dirasa konyol, saya pun tak punya juga alasan bagus akan hal ini. Ambisi ini mungkin ambisi yang kolot, saya ingin beli biji kopi, yang bisa dibeli dengan jumlah sedikit. Mengingat finansial ini sangat terbatas, tak bisa juga kusimpan biji kopi terlalu lama. Tempatnya itulah yang dirasa jauh, berada di jl. sukasenang, butuh ongkos, waktu, dan alasan yang logis untuk meyakinkan bapak saat aku pergi kesana. Di sisi lain, sorenya bapak mengajakku ke suruput, kedai kami yang sudah buka sejak 4 bulan lalu. Alih-alih sangat disayangkan, beberapa karyawan, termasuk barista, akhir-akhir ini banyak yang mengundurkan diri, 3 tenaga kerja ini entah tidak nyaman atau apa, namun mereka berhak memilih bukan? yang jelas pengalaman menyeduh ini akan sangat berharga untuk mereka , saat mereka diluar kedai. Sudahlah, kalian tau yang terbaik untuk kalian sendiri. Kemarin kucoba buat capuccino, seorang amatir macamku ini rupanya oh rupanya, belum bisa bikin latte art. Nah, untuk hari ini, hanya ada ( kusebutkan namanya saja ya). Nanang dan Dea, mereka hanya orang yang cukup merakyat, rendah hati, dan berjiwa ibaratnya pembantu, tak sombong atau pintar2 amat lah, entah bagaimana menjelaskannya.

Screen Shot 2017-01-17 at 9.08.20 PM.png

Tampak kanan, nanang yang megang bar malam itu, dia juga sudah cukup mahir sih. Pengunjung pun sangat antusias saat menyaksikan Nanang menyeduh

Aku sih nyaman-nyaman saja, office boy di kantor bapak pun sering kuajak ngobrol. Hari ini aku dapat kesempatan melayani pesanan, aku yang mengajukan diri pada nanang saat itu, kubuat vietnam drip, tubruk, menyodorkan menu, lumayan juga, pertama kali aku pusing akan pesanan dan segala rupa ini dan itu nya.

 

Senin 16 Januari 2017

Baiklah, reaksi nya kurang ada unsur apresiasi. Tak apa, lebih baik saat dia sudah bilang ,kopi ini enak. Yah siapa lagi kalau bukan Bapak. Hal menarik lainnya, piccolo latte rupanya sangat menghanyutkanku, entah memang rasanya begini, beans nya yang bagus, atau barista nya jago.

IMG_20170117_174921.jpg

Wujud Piccolo latte yang saya pesan di Bag Coffee

Petualangan kopi hari ini dimulai kembali, ke home roastery bernama bag coffee.

IMG_20170116_134603.jpg

Interior kedai yang sederhana, dipenuhi berbagai musisi yang asyik mengobrol.

Alih alih sulitnya menemukan tempat ini tanpa gogle maps, tapi worth lah dengan kopinya, walau saya harus merogoh kocek lebih ekstra kali ini, karena saya mau coba beli roast bean. Apakah hal ini perlu diceritakan? entahlah, tapi 4 hari yang lalu, refrensi tempat ini yang mulai mengusikku.Refrensi ini datang dari Mas Onyong, barista di kedai kecil bernama 11:12 yang punya makna tersendiri dalam mengopi.

IMG_20170112_144844.jpg

Tampak samping kedai sebelas dua belas, di daerah dago, bisa ditemukan sebelum SMAN 1  dari arah bawah.

Tak perlu banyak ilmu, yang penting punya skill dasar yang enggak boleh lepas, atau lebih tepatnya aturan menyeduh kopi dasar seperti satu contoh yaitu tingkat kematangan air. Baginya pula, kopi hanyalah sebagai media mengobrol, tak melulu soal kopi yang biasa dia bahas dengan pelanggan, obrolannya selalu ngalor ngidul oleh suasana dan topik yang ada. Padahal dulunya, saya sendiri takut mampir kedai, karena minimnya pengetahuan, malu, dan hal-hal tak terduga lainnya. Tapi disinilah seharusnya kita berbagi pengalaman, cerita, bertukar pikiran, apalagi kalau bisa menambah wawasan, semua akan jadi menarik tanpa kalian duga sebelumnya, barista saya rasa tak segan berbagi kok. Disini pula saya belajar, bahwa tak harus gaya, dan sok elegan sebagai penikmat kopi, kita bisa menjadi sederhana dan tidak memikirkan hal yang terlalu kompleks, tak banyak pula remaja macamku menggeluti minat pada kopi, lebih tepatnya nyantai dan menikmati hidup, ditemani obrolan dan secangir kopi yang pastinya akan menghanyutkan suasana mengobrol lebih berkesan, well.. salam suruput para pembaca, jangan lupa tuangkan pengalaman ngopimu dalam karya tulis

 

Minuman Kemasan

Saya sudah mulai jeli rasanya, pertama sih dari kopi. Komposisi, persentase, dan berapa kadar yang ada pada semua minuman kemasan, sebaiknya ini perlu di perhatikan. Saya sendiri sempat heran dengan harga kopi instan yang begitu murah sampai banyak diminati dan dikonsumsi orang banyak, orang indonesia mana yang menolak barang murah. Padahal biji kopi asli bisa mencapai ratusan ribu untuk 2 ons saja. Sejenak saya coba cari tahu, dan tentu saja kandungan kopi pada kopi instan tidaklah mencapai 50% yang membuat saya yakin, inilah penyebab kopi instan bisa diproduksi dan dijual dengan jumlah sangat banyak. Sisanya bisa saja pemanis buatan, perisa dan sebagainya, ini bisa ditemukan pada komposisi saat kalian cari kopi ala caffe dengan harga minim, entah 1000 sampai 2000 rupiah per sachet. Saya sendiri sudah berhenti mengonsumsi kopi palsu itu, saya lebih suka sesuatu yang murni, entah minum di kedai, atau seduh sendiri di rumah. 

Seraya itu, sebagai pelengkap kopi ada susu kental manis. Saya kadang merasa ditipu habis-habisan, tak banyak susu yang terkandung melainkan kadar gula tinggi yang sering bikin orang salah persepsi, terutama kepraktisan dan harganya yang sangat terjangkau. kalau begitu tidaklah berbeda kalau kita sebut krimer kental manis. Kadar gula dan lemak dalam susu kental manis sendiri sangat tinggi dan sangat tidak dianjurkan untuk diseduh dengan air lalu diminum. Ada satu produsen susu kental manis yang mengganti nama produknya menjadi krimer kental manis dan mencantumkannya di lokasi yang tidak strategis sehingga konsumen termakan oleh tipuan produk susu sialan yang satu ini. Sebenarnya susu kental manis hanya pelengkap ataupun topping olahan makanan  yang berbau kue, dan bukan sebagai minuman untuk di seduh. 

Selain susu, pasti tidak jauh masih mengenai minuman. Minuman botolan atau dus di supermarket, yang mengaku mengandung sari buah dan vitamin tinggi. Padahal teh kemasan botol saja hanya memiliki persentasi teh 4% saja, sisanya hanya air, gula, dan perisa buatan. Okelah, jus kemasan, atau minuman sari buah kemasan mencantumkan mengandung sari buah. Minuman ini saya akui jelas mengandung sari buah, yang ternyata tidak mencapai 10% buah asli. Apa kandungan buah tersebut akan memenuhi kebutuhan tubuh secara baik? Saya rasa minuman-minuman ini hanyalah berguna untuk menyegarkan, dan memenuhi permintaan konsumen yang cukup tinggi. Penelitian sendiri membuktikan bahwa jus buah dalam kemasan tidak lebih sehat dari minuman soda botolan, jadi akan lebih baik untuk beli jus yang kita saksikan langsung saat di blender, kita sendiri bisa meminta jumlah gula sesuai selera ketimbang memilih praktis tapi tak jelas manfaatnya bagi kesehatan. Memang hidup sehat akhirnya dirasa cukup  sulit, setidaknya usaha harus ada supaya hidup ini  lebih berkualitas nantinya. Semoga saja artikel ini bermanfaat, berbagai sumber dan bukti empiris kurang saya cantumkan jelas karena semua ini hanya hasil penalaran saya , untuk lebih lengkap dan menambah informasi silahkan berselancar lagi di google!

Absurdnya Cinta

​Cinta

definisi ini terus mempertanyakanku, atau aku yang bertanya pada definisi ini, atau mungkin aku tak tau dimana bisa menemukan kau wahai definisi? Absurd lah kau, hanya sebuah kata yang merusak pikiran manusia seusiaku ini, sebuah ironi itulah yang kini terjadi. remaja yang labil ini mulai sok tahu dan pura-pura telah merasakannya. Tapi cinta bermakna lebih dalam bagiku, tidak berbatas oleh tempo dan sesal saat cinta itu berakhir. Yah, bukan cinta pula yang menyulitkan kita, tapi kitalah yang menyulitkannya dengan memberi definisi yang sesuai pengalaman dan kata hati kita masing-masing. Cinta hanya sebuah kata, kita sendiri yang mengartikan dan mempersulitnya. Dari butuh perhatian, rasa ingin memiliki, pamer, nafsu belaka? atau memanfaatkan saja? Tidaklah harus perasaan sayang kita ini dipendam, tidak pula juga harus di realisasikan dengan “pacaran” atau hubungan, satu hal yang kaunggap benar yaitu ungkapan, menyatakan perasaan, bukan jabatan, menurutku manusia tak punya hak untuk memilih. Seperti yang pernah kualami, hanya ada akan rasa sakit dan keegoisan saat manusia harus memilih seseorang sebagai pendamping hidup dan sifatnya sementara pula statusnya. Rasa sakit dari orang lain yang punya perasaan yang sama padamu, menumbuhkan rasa egoismu untuk memilih orang lain yang kaurasa memendam perasaan yang sama denganmu. bahasa sederhananya adalah cinta segitiga, ada 1 orang yang harus memendam beban perasaan untuk menghargai temannya. hidup yang tak pernah adil membuat manusia kian egois dan tak memikirkan perasaan orang lain yang juga menyukainya. Namun bagiku cinta tak boleh berakhir dengan penyesalan, dan kebohongan. Pada akhirnya kupikir lagi, manusia punya cara dan pengalaman cinta yang hanya mereka sendiri yang bisa tahu dan merasakannya, jadi biarlah cerita cinta itu berakhir saat nafas berhenti berhembus. bukan definisi, tapi cerita cinta yang akan kita terus kita cari, jadikanlah teori diatas sebagai inspirasi kalian, temukan cinta, dan ciptakan cerita cinta yang berkesan

Selamat menjalani hidup 🙂

Pour Over Coffee

IMG_20160828_103648#1

“Kenapa kopi harus disaring?” Aku memang sudah tau, maksudnya supaya ampas tak mengendap dan mengganggu di cangkir kopi. Kopi memang punya treatmen dan rasa yang berbeda-beda rupanya.

“ Sebenernya, cara ini supaya citarasa kopi enggak hilang, tapi disini kita pake kertas filter dan kono untuk meneteskan kopinya”

“ Manual brewing ya pak? V enam puluh?” Tanyaku

“ V sixty lin ” Bapak membetulkan, sambil menuang air untuk membilas kertas filter yang ditaruh di atas v60.

Screen Shot 2016-09-01 at 4.43.26 PM

“ Emang harus dicuci gitu pak ya? Berarti kertasnya kotor?” tanyaku lagi

“ Yah, harus dibilas dulu dong, nanti bau kertas di kopinya” Begitu penjelasannya. Wah wah, bapak ngerti banget. Terkadang kopi tubruk terasa lebih sedikit dan banyak bubuk yang mengganggu, walau punya makna tersendiri pada akhirnya aku lebih condong untuk menyukai metode v60 ini. Tanpa bubuk, kopi terasa lebih mudah dinikmati, bapak lebih merasa seperti minum anggur katanya. Yah kuakui

“ Mmm, enak pak, memang si asem kopi Arabica nya tuh lebih dapet dan karakter kopinya juga jauh lebih kerasa” begitu responku saat pertama kali mencobanya.

IMG_20160901_164508

Bukan dari metodenya saja, kopi jawa barat memang yang terbaik. Paman rutin memberi Java Prenger Arabica coffee untuk kami nikmati. Kembali ke v60, Arabica yang di filter terasa lebih bersih di lidah, karena filter tadi yang artinya menyaring walau menurutku lebih ke agar bubuk kopi tak harus ikut berada di gelas. Yah, memang warnanya enggak begitu hitam dan kadang seperti warna teh, jadi gunakanlah cangkir kopi, supaya lebih keren kesannya. Yah entah berasa mewah atau bagaimana, kebiasaan ini menjelmaku, kadang sih ibu bilang aku kayak orang tua karena suka minum kopi. Tapi tak pernah ada masalah sih untuk bapak sendiri, dia malah antusias karena ini.

Lomba Kami

IMG_0008

Berawal dari diusir, kami pramuka yang dianggap ilegal akhirnya berangkat pergi meninggalkan sekolah ke taman pramuka,  itu adalah 2 hari sebelum lomba tiba. Sekolah memang tak lagi mengakui IMPEESA, nama pasukan pramuka smpn 7 Bandung yang telah berdiri seperti keluarga selama 42 tahun. Lama tak berprestasi, kurang anggota, dan tak ada peminat, kami ingin coba unjuk gigi dengan keterbatasan yang ada. dengan mayoritas pasukan kelas 7, 2 minggu kami paksakan berlatih untuk maju ke lomba pramuka se-bandung raya. 2 tahun kami tak terlihat, akhirnya berjumpa tetangga kami di SMA 10. Sempat diriku berkhayal dengan teman-teman agar bisa bangkit, menang, dan membuat takjub sekolah kami.Berlindung dibawah atap masjid, berteduh dari hujan berfikir akan ada harapan untuk menang. Memang pasukan baru kebanyakan sudah berpengalaman dan menjuarai lomba di sd nya lalu. Tapi masih ada kenyataan yang masih harus kuungkapkan disini.

IMG_0036

Kabar tak menyenangkan tiba dihari lomba, kak carissa pembinaku bilang kalau pinru kami Omar tak bisa ikut maju ke lomba. Cobaan itu lumayan merendahkan rasa optimisku dan harus mengambil alih pasukan. Lomba harus tetap berjalan, P3k, PBB, dan semaphore sudah tak bisa kuharapkan.

IMG_0060

IMG_0027

Mata lomba yang kuambil pun di pengetahuan pramuka aku gagalkan, yaa diriku gugur juga disini. Hingga pengumuman tiba, rasa sesal dan menghamburkan uang, memenuhi otakku. Kami tak memenangkan apapun, hanya sertifikat dan pengalaman yang dirasa bisa menjadi pelajaran kedepan agar lebih mematangkan persiapan kami. Tak tau bagaimana para mahasiswa sebagai pelatih sekaligus alumni sekolah kami, harus menanggung rasa kecewa dan beban hati akan hal ini. Perjuangan kami tak mungkin berhenti disini, pramuka harus mampu bangkit dan mengejar kesempatan yang menanti di depan. We never give up, we are big and happy family 😀

 

Kopi dan Aku

Seorang hipster tak mungkin lepas dari kopi. Mulai dari bersepeda, jalan kaki, membaca buku, apalagi menikmati kopi, adalah kebiasaan pentingku. Tidak wajar pemuda smp sepertiku menjadi penikmat kopi dan banyak mengulik hal tentang kopi. Mengopi, nyemil sudah menjadi tradisi keluargaku setiap sore ataupun pagi. Mulai dari teh tubruk, disaring, teh hijau, hingga kopi susu yang kini kuanggap murahan sudah pasti pernah kucoba. Iseng sewaktu kecil, bapak minum kopi, aku pengen, ibu minum kopi aku ikut minum juga. seperti ada rasa pahit yang bermakna dan kupertanyakan dimana sisi enak yang membuat banyak orang kecanduan?

IMG_20160730_101752

Namun kini, semua kopi sachet itu sudah kubuang jauh dan tak mau kuminum lagi. Mulailah Bapak tertarik dengan dunia kopi yang otomatis menurun padaku. Hingga tahu benarlah aku bahwa kopi Indonesia itu mahal dan terkenal di dunia.  Kebetulan pula, pamanku juga pecinta kopi. Hampir setiap bulan kami dapat kopi java preanger Arabica darinya. Pertama kali ditubruk, aku tak mengerti sisi enaknya kopi ini dan pada akhirnya pasti kuberi gula. Setelah disaring dan diberi susu kental manis, barulah aku tahu kalau Arabica ini punya citarasa asam yang khas dan sangat istemewa di lidah.

Terjunnya bapak ke dunia kopi, tanpa kusadari seringkali dia dikirim kopi, pergi ke kedai kopi, apalagi berbincang dengan para barista di kedai kopi Pernah juga sekali waktu bapak mengajakku datang ke presentasi kopi di jalan asia afrika, juga untuk sekedar menikmati secangkir espresso di coffee shop sekalian ambil kopi yang sudah disangrai.

IMG_20160712_085534

IMG_20160724_105906

Rasa tertarikku kian membludak, bapak mulai membeli alat untuk meracik kopi dengan berbagai metode yang cukup asing untukku. Mulai dari pour over, Vietnam drip, hingga french press dia beli. Citarasa yang agung dari metode pour over, sangatlah menggugahku, tak ada ampas, asamnya nikmat di lidah, pokoknya menarik sekali. Bapak hadir sebagai barista amatir yang handal dirumah dengan metode manual brewing ini. Presentasi dia tunjukkan ke teman-temannya, untuk membuktikan sebagus apa pengetahuan dan tekniknya dalam meracik kopi. Tak mau kalah dan ingin merasa keren, aku mulai belajar menggiling kopi dengan grinder manual punya bapak, kucoba menubruk kopi sendiri, browsing pengetahuan tentang kopi, hingga aku menjadi barista kedua di rumahku setelah Bapak. Ibu pun mulai mengandalkanku untuk menggiling beans, dan meracik kopi susu dengan Vietnam drip. Apresiasi juga datang dari media sosial juga bapak yang sering minta tolong untuk menggiling biji kopi padaku. Merasa beruntung di rumah ada grinder manual, karena kopi akan terasa segar saat baru digiling. Bapak yang sudah banyak bergaul di dunia kopi, membuatku merasa lebih beruntung lagi, kami kerap kali dan sudah pasti mendapat kiriman kopi, dan biji kopi untuk di roast atau digiling. Waha, banyak sekali yang ingin kuceritakan lagi, mungkin akan dipisahkan di artikel selanjutnya

I Hope you enjoy your coffee.. thanks for reading

 

Bab 2. Kawan yang bisa bersatu dengan pikiranku

“Lintang, kamu itu jangan suka ngebaperin cewek, kita enggak suka, kamu harus pacaran, kamu harus tembak cewek itu.” Entah kenapa 3 gadis dihadapanku ini, terus menceramahiku tentang pacar, dan baper. Aku enggak mengerti apa itu baper sebenarnya.

“ Lintang baper itu bawa perasaan, jadi kamu udah bikin kita bawa perasaan atas kata kata dan sikap kamu, sampai kita enggak bisa berhenti mikirin kamu”. Jadi inikah pertama kalinya? Ada 3 gadis yang menyukaiku, dan menyatakannya langsung kepadaku. Iren, Fanny, dan Ayu. Entah kenapa aku tak pernah kehabisan kata kata, masih timbul banyak pertanyaan, samakah suka dengan cinta. Aku merasa biasa saja, entahlah sampai akhirnya ada pria yang akan menjadi sahabat baruku dan aku sangat nyambung dengannya, Omar. Dia datang menghampiriku yang sedang berbincang dengan tiga gadis ini.

“ Eh halo Ayu, siapa ini? Aku akan membela dia sebagai laki laki”

“ Eh Om “ Kata Ayu. Dia sering dipanggil om, apa seperti om-om? Biar aku tegaskan, namanya Omar, kita bisa memanggilnya om atau mar, walau terkadang orang sering salah kaprah. Dia sempat mengira aku kakak kelasnya, dia banyak bercerita saat menghampiriku.

“ Eh, Lintang kelas 8 ya? Aku suka liat kamu, di IMPEESA juga. Aku kira kamu kakak kelas” Cerita Omar

“ Eh kenapa kamu bisa ngira gitu? Saya kelas 8 kok” Sebentar aku berfikir, kenapa dia bisa mengira aku kakak kelas. Bahasaku kah, cara bicara, atau dari fisikku? Dia lanjut bercerita

“ Soalnya kamu tinggi banget, terus muka kamu itu. Gaya kamu dewasa gitu lin”

Aku memang enggak pernah menyadari betapa tingginya aku, sampai aku tersadar kalau sebenarnya aku adalah siswa tertinggi juga kurus di kelasku.

“ Jadi, menurut kalian orang yang membuat kalian bawa perasaan itu enggak boleh ninggalin, itu berarti mereka yang salah begitu? Kalo menurut saya justru gadis itu yang berlebihan, gadis itu yang salah. Cara berfikir kalian ini gimana sih? ” Begitulah cakapku. Membuat mereka tertegun dan menyatakan persaan mereka kepadaku. Mulai dari Fanny, Ayu, Iren mereka mengatakan hal yang sama. “ Lintang aku suka sama kamu, kita suka sama kamu, kamu itu polos, kamu pendiem, enggak kayak cowok lain, kamu itu baik, suka nyapa, pokoknya kita suka sama kamu. Itu intinya. ” Begitu seingatku. Aku tertegun, pertama kalinya ada 3 gadis secara langsung menyatakan persaannya, kemana orang seperti mereka 12 tahun ini? Aku tidak menanggapi serius, aku masih berfikir ini konyol, dan tak tau harus berbuat apa. Mulai dari penilaian mereka bahwa aku yang sering berfikir dan berkomentar itu polos, bahwa aku tidak tau apa apa mengenai segala percintaan di dunia. Bagaimana rasanya mereka menyukai seorang pria seperti aku. Banyak pertanyaan di benakku. Apa tindakkanku selanjutnya, aku masih tetap terdiam hingga semua itu berakhir. Mereka bertiga pergi meninggalkanku dengan kata kata terakhir itu yang membuatku bertanya tanya, sebegitu kah cara orang sekarang, cara remaja sekarang berfikir akan cinta, pacaran. Harus kusebut naif kah mereka? Satu keuntungan yang kudapat, yaitu teman baru dari kelas 8F. Sastradilaga Omar, seringkali aku berbincang-bincang dengannya, membahas mengenai pramuka, pandangan anak remaja sekarang. Kalau menurut Kak Fadhil pembicaraan saya dengan Omar maupun dengannya, itu merupakan pembicaraan yang berat untuk remaja sekarang ini, dan jarang ada orang seperti dia maupun aku juga Omar. Entah sejak kapan aku mulai berfikir dewasa dan serius dalam kehidupan dan yang lainnya.

 

Tidak terasa di hari aku bertemu dengan Omar, itu adalah hari ketiga sejak kakiku sembuh. Aku mulai bisa menjalani kehidupan dengan normal. Aku bisa sholat dengan baik, berkeliling sekolah, bertemu teman teman diluar.

 

Bertemulah lagi aku dengan Satrio, sahabatku dikelas tujuh. Sahabat yang menganggap dirinya kurang mampu dan bersedia menemaniku, yang sekarang menetap dikelas yang berbeda. Kami hampir jarang bertemu dan pergi bersama. Padahal Omar pun berbeda kelas akan tetapi dia sering menghampiriku ke kelas untuk berbincang-bincang.

“ Hei Lin, gimana kaki kamu? Udah sembuh ya?” satrio menghampiriku

“ Iya nih sat, kok kamu jarang keliatan. Deva kemana? ” kataku

“ aku sering dikelas kok Lin, Deva tadi sama temennya aku lupa namanya” Jawabnya

“ Oke sat, aku ke kelas ya. Bentar lagi bel nih.” Seruku sebagai salam perpisahan. Entah kenapa saat kami bertemu hal menjadi kurang bersahabat. Aku yang sudah mulai bergaul dengan Omar melupakannya. Dia yang selalu tersenyum dalam suka dan duka, terlihat menutupi dan mengabaikan kesedihan hatinya. Percakapan tadi bukanlah hal yang kuharapkan, hanya sekedar hal yang ingin kulakukan agar bisa bertemu dan mengobrol sedikit sampai akhirnya kehilangan topik kami.